Rabu, 22 Oktober 2025

CINTA DALAM DIAM

"Apa ada seseorang yang kau suka?" Pertanyaan yang kau lontarkan saat  bertemu siang itu setelah sekian waktu kita habiskan untuk saling berbagi cerita.

Sejenak aku terdiam, pertanyaan itu seperti sebuah jebakan batman, jika salah sedikit saja menjawab bisa menghancurkan semua yang sudah terjalin. Haruskah jujur! Atau aku harus berbohong! Sepersekian detik waktu kuhabiskan untuk berpikir.

"Ada sih!" Jawabku singkat, dengan harapan pertanyaan itu tak akan lagi diulang.

"Siapa? Orang mana? Apa aku kenal?" Ternyata aku salah menjawab pertanyaanmu tadi.

"Yang jelas dia laki-laki, orang sinilah, kemungkinan kamu mengenalnya."

"Siapa?" Kau makin menuntut jawaban.
"Ih kepo...hahaha,"tawaku pecah melihat antusiasnya kamu mencari tahu.

"Apa yang kamu suka dari dia?" Kau masih terus bertanya. Pertanyaan yang mudah namun sukar untuk diucap oleh lisanku.

"Aku suka dia karena dia baik, ramah, suka memeriahkan suasana, setiap kehadirannya membuat suasana kaku menjadi cair. Mungkin ini lebih ke rasa kagum, sih. Kalo untuk bilang suka kayaknya terlalu berlebihan, ya. Seperti langit dan bumi."

"Apa dia tahu kalau kamu suka sama dia!" 

"Mungkin dia tahu tapi dia tak ingin membuatku malu, lagian biar aku suka, dia juga tidak suka aku kok, dia dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengaguminya."

"Kalau memang suka, sebaiknya cepat dikatakan sebelum diambil orang, nanti menyesal."

"Alhamdulillah, kalau begitu. Bukankah bagus kalau dia memiliki pasangan yang dicintainya. Aku akan turut berbahagia, bukankah mencintai tidak harus memiliki. Tahta tertinggi mencintai adalah bahagia bila melihat orang yang kita cintai bahagia. Itu sih menurut aku, ya!"

Lalu setelah pertanyaan yang penuh rasa penasaran itu tak juga terjawab, kamu akhirnya pulang. 

Sementara aku, setelah kepergianmu kembali merenung. Apakah semua yang sudah kukatakan itu adalah benar isi hatiku? Benarkah aku bahagia? Tanya itu terus berkelindan.

Apa jika aku jujur mengatakan perasaan ini akan di anggap tak tahu diri, memanfaatkan keadaan, atau...

Hal yang paling ditakutkan adalah saat kau tahu jika aku mencintaimu. Sedari awal menyadari rasa ini, aku tahu semua salah. Tak sepantasnya pinggul merindukan bulan. Tapi belenggu ini begitu kuatnya menjeratku. 

***

Hari-hari berlalu, kita masih sering bertemu di beberapa aktifitas kegiatan. Canda dan tawa masih terus mewarnai setiap pertemuan. Dan aku  berharap semua akan terus seperti itu. Hal yang aku lupakan bahwasanya tidak ada sebuah kebahagiaan yang abadi.

Sampai pada suatu hari, undangan pernikahan sampai ditanganku. Dan itu adalah undangan pernikahan dirimu, ah ternyata pemberi tawa di hari-hariku sudah menemukan tambatan hati. Sedih, tentu saja. Karena ternyata cintaku bertepuk sebelah tangan. 

Sedih, karena ternyata bukan aku wanita idamannya. Kecewa, sangat terasa. Kukira kita berteman dengan sangat karib, kau selalu bercerita tentang siapa saja yang dekat denganmu, tapi kali ini ternyata kau begitu pandai menyimpan rahasia hatimu hingga tak mengijinkan aku untuk tahu lebih awal. Andai kau katakan lebih awal mungkin aku akan bersiap diri agar tak bersedih. 

Kau tahu, kecewaku karena kau memberi tugas di waktu yang bersamaan dengan hari pernikahanmu. Apakah itu sengaja? Apakah sebagai seorang sahabat aku tak boleh menyaksikan hari bahagia mu?

Lagi-lagi pertanyaan itu hanya mampu kuucapkan dalam hati. Lisanku kelu untuk sekedar bertanya. Andai kau tahu, lelaki yang ku kagumi dan kusuka itu dirimu, seseorang yang telah memberi tawa dalam hari-hariku yang kelam. Seseorang yang tak mampu untuk kuraih.

Seperti yang pernah kukatakan, dia matahari sementara aku bumi, dia bulan sementara aku pungguk. Cukuplah menjadi seorang sahabat, teman tempat berbagi keluh kesah dan tawa. Jangan pernah berharap lebih. 

Barakallah 

Semoga kebahagiaan selalu tercurah dalam hidupmu 


Prabumulih, 2025

***
Suara getaran terdengar dari dalam tas yang kuletakkan di laci meja. Nyaring hingga membuat beberapa rekan di dalam ruangan ini menatapku geli. Sementara aku, tentu saja sangat terkejut, lupa saat masuk ke ruangan ini belum mengubah mode hening di ponselku. Dengan menahan rasa bersalah dan malu, aku memohon maaf kepada semua rekan. Untungnya mereka semua mengerti. Tapi malunya itu loh, sulit sekali dihilangkan.

Kuraih ponsel dan melihat siapa yang menghubungiku. Feri...tumben sekali. Apa yang membuatnya menghubungi dan terkesan darurat sekali.

"Izin keluar sebentar, Pak!" Ucapku pada salah satu panitia yang berada tak jauh dari pintu. Setelah mendapatkan ijin, aku bergegas keluar dan menelepon balik ke nomor Feri.

"Hallo, assalamualaikum, Fer. Ada apa?" 

"Mbak Lin, dimana? Masih ikut bimtek ya?" 

"Iya, ini masih pemaparan materi dari kantor perpajakan. Ada apa, Fer?" Kembali aku mengulang pertanyaan yang belum dijawabnya.

"Maaflah mengganggu, Mbak. Ini loh, beneran si Fikri mau nikah. Kok kami nggak ada yang dapat undangan, sih. Padahal baru bulan lalu aku nginep di rumahnya. Tidak ada dia cerita sedikitpun bakal menikah dalam waktu dekat ini, Mbak!" Suara Feri terdengar kesal.

"Mbak juga kurang tahu, Fer. Udah lama juga nggak kontrakan sama dia. Ya, kalau beneran mau nikah, bagus dong. Berarti karibmu oru nggak jomblo lagi." Jawabku dengan nada ceria.

"Tapi ngeselin Mbak kalo beneran nikah. Kok nggak ada sebar undangan minimal kasih kabarlah. Padahal aku sama Fikri itu kan sudah temenan lama banget. Kok di moment penting malah seolah nggak menganggap aku ada."

Dari suaranya tampak sekali kekecewaan Feri terhadap Fikri. 

(Sama, Fer. Aku juga kecewa dan patah hati)

Kata-kata itu hanya terucap di dalam hati. Tak mungkin ku sampaikan pada Feri. Alangkah konyolnya jika semua tahu aku menyimpan rasa pada Fikri.

"Ya, sudah ya Mbak. Aku cuma mau tanya itu saja. Maaf udah ganggu waktu belajar, Mba Lin," Feri akhirnya mengakhiri panggilan setelah selesai mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya terkait kabar pernikahan Fikri.

"Santai saja, Fer. Nggak ganggu kok. Kalau begitu Mbak matiin ya, assalamualaikum," kuakhiri panggilan dengan salam.

Bukannya langsung masuk kembali ke ruangan dimana kegiatan pelatihan masih berlangsung. Hatiku gerimis, kaca-kaca dimatamu nyaris jatuh. Aku bergegas berjalan ke toilet. Membasuh mukaku, bukan hanya karena kantuk yang mulai menyerang tapi juga untuk menghilangkan sisa-sisa dari pecahan kaca dari rintik yang mulai menguyur mata dan hatiku.

Fikri,ternyata sesakit ini kehilanganmu. Andai saat itu aku jujur, apakah kau akan memilihku?





Rabu, 24 Agustus 2016

RUMAHKU SURGAKU

Oleh   : Susi.ks

Terkadang ada yang terlupa kulakukan sebagai seorang ibu, karena tekanan ekonomi yang kian sulit atau karena gengsi hingga aku harus selalu memaksakan keinginan hati ini agar anak-anak selalu mengikuti semua arah pemikiranku. Dan saat salah satu dari mereka mulai membangkang dan ingin hidup dengan cara yang mereka pilih sendiri aku merasa begiitu gamang dan merasa seolah tak dihargai. Mengapa...mengapa harus mereka yang selalu mengikuti mauku sedang mereka pun punya hak untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Rumah yag selama ini kurasa begitu penuh kedamaian berubah menjadi neraka , ajang sebuah pertempuran bahkan nyaris terjadi pertumpahan darah. Egoku yang merasa lebih tua merasa lebih banyak mengecap pahit manisnya kehidupan telah membuat gelap mata. Marah secara membabi buta hanya karena menginginkan dia menuruti semua inginku. Membuatnya harus terpisah dari semua saudaranya.

Butuh waktu 40 harii lebih untuk bisa membawaku kembali berpikiir jernih, mencoba menelaah semua permasalahan. Dan akhirnya aku  sadar, aku salah karena memaksakan inginku ppadamu. Maafkan ibu nak, yang membuat semua menjadi seperti ini.

Ibu macam apa aku ini yang membuat anak- anak harus menderita, terpisah satu sama lain. Bukankah Tuhan sekalipun Maha Pemaaf tapi kenapa aku malah seperti mesin pembbunuh bagi karakter anak-anakku.

Rumah yang teduh penuh tawa  berganti suram, mereka tak lagi bisa tertawa lepas. Tak lagi bisa berbagi cerita seperti dulu dan semua adalah akibat ulahku.
Memang kenapa jika dia tak ingin melanjutkan sekolahnya? Bukankah pendidikan bisa didapatkan dimana saja, bukan hanya dari jalan formal. Jika tujuan akhir dari sebuah sekolah adalah pendidikan, bukankah diluar sekolah formalpun  mereka bisa mendapatkan pendidikan yang bermanfaat dan bisa menunjang masa depannya.

Karena ego yang terlambat kusadari wakktu terasa lambat berlalu dan saat aku tersadar dia, putraku tellah menjauh dari rangkulan kasih  sayangku.
Dapatkah Surga itu kembali lagi ke dalam Rumah ini??? 

Minggu, 29 November 2015

Puisiku_ ILALANG_SUSI.KS



ILALANG

Oleh : Susi.ks


Siapa aku
Yang tak pernah terlihat oleh matamu
Tak layak mendapat pesonamu
Walau tlah beribu caraa tuk menarik perhatianmu

Siapa aku
Yang ada namun tiada di anganmu
Hanya perusak bagi pandangmu
Karena aku hanya ilalang
Diantara semerbak wangi
Disekelilingmu

Selasa, 25 Agustus 2015

MY POETRY : BARA AMARAH JIWA



                                        BARA AMARAH JIWA



Tatap matamu nanar menembus hati
Membakar jiwa yang meranggas marah
Siapa kau???
Yang bersembunyi dalam keramahan semu namun berduri

Dahagaku tak hilang walau tersiram hujan
Api amarah sudah membara dalam jiwa yang nestapa
Kau... tak kam mampu redam gejolak ini



Kupalingkan wajah darimu
Tuk redamkan bara dihati ini
Kusiram wajah ni dengan untai doa dalam hati
Agar pupus benci dalam jiwa ini

Jangan hadir di hadapanku
Untuk bangkitkan kebencian ini
Karrena kau tak lagi berarti apa- apa untukku
Dan buang jauh inginmu untuk mendekatiku





Prabumulih, 18 Februari 2015

Jumat, 08 Mei 2015

PUISIKU

                                    

                                      BUNDA

                                                                            Goresan pena : SUSI.KS


Bunda...

Kasihmu tak berbatas dan berjarak
Tak lelah kau bimbing diri ini tanpa mengharap balas jasa

Bunda...

Renta  tubuhmu termakan usia
Tanpa keluh dan kesah mendampingi langkah ini
Beribu cobaan menerpa hidupku
Hanya doa mu yang membuatku tegar saat terpuruk
Saat ku berduka  kau lah yang memberi kekuatan
Pada jiwa yang rapuh tak berdaya ini

Bunda...

Tiada yang mampu menandingi kasihmu
Tak terbalas walau limpah harta dihadapanmu
Tak terganti air susu yang kau beri untukku
Yang mengalir menjadi darah daging dalam tubuh ini

Cintamu yang memberi nafas hidup ini
Tanpamu bunda tanpa lantunan doa- doamu
Hidupku tak lah memiliki makna apa- apa

Bunda...

Tiada mampu ku menatap esok
Tanpa restu dan ridhomu
Engkaulah nafas hidupku
Mengalir dalam darah ini
Bersemayam dalam hati dan jiwa

Yang merindu tuk  berjumpa


Prabumulih, 16 Desember 2014
[ Persembahan untuk ibunda tercinta ROHAYATI ]

PUISIKU

                     


                                        KAMU............

                                                                               Goresan pena: SUSI.KS



Kamu seperti virus penyebar penyakit
Kamu seperti kuman yang menyebar di kloset rumahku
Biarpun tlah ku minum semua antibiotik untuk melindungi tubuhku
Tetap saja kamu datang...datang...dan datang lagi


Terus- terusan menyebarkan penyakit di hati aku
Kamu juga seperti zombie
Saat diberi suntikan antibiotik
Kamu bukan mengecil dan menghilang dari hati


Tapi makin membesar...membesar dan terus membesar
Dan seharusnya kamu tahu
Kamu sudah buat aku jadi gagu
Nggak pernah bisa bicara bila di dekat kamu


Sekarang boleh nggak aku tanya kamu
Kapan kamu enyah dari pikiran dan hidup aku???







Rabu, 25 Maret 2015

PUISI _ CINTAKKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN_SUSI.KS


                               
                                       CINTAKU BERTEPUK SEBELAH TANGAN



Perasaan cinta
Kasih dan sayang
Semua yang ada dihati ini
Pernah kuberi untuknya

Namun yang kudapat hanya goresan sembilu
Yang memporak porandakan istana cintaku

Lalu hadir perasaan kedua
Dimana cinta dan kasih sayang ini
Ingin kucurahkan utuh untukmu

Namun kembali aku terhempas
Saat tersadar
Ternyata cintamu pun ternyata tak mampu kuraih

Aku menangis kecewa dan merasakan sakit
Yang teramat dalam saat kusadari
Ternyata...
Cintaku selama ini bertepuk sebelah tangan


Prabumulih, 25 Maret 2015
Diary hati  arsip 29 Desember 2013